Diciptakan, Singkong Bebas Racun Sianida
Singkong merupakan makanan pokok ketiga terpenting di sejumlah negara tropis. Sayangnya, tanaman ini memiliki satu problem utama, yakni akar dan daunnya bila diproses secara buruk bisa menghasilkan zat yang saat dimakan dapat memicu produksi sianida.
Singkong merupakan makanan pokok ketiga terpenting di sejumlah negara tropis. Sayangnya, tanaman ini memiliki satu problem utama, yakni akar dan daunnya bila diproses secara buruk bisa menghasilkan zat yang saat dimakan dapat memicu produksi sianida.
Inilah problem serius yang dihadapi sekitar 500 juta orang yang mengonsumsi singkong sebagai sumber utama kalori, yakni para petani di Sub Sahara Afrika, demikian menurut Richard Sayre, profesor biologi tanaman dari Ohio State University. Ia beserta koleganya, Dimuth Siritunga, peneliti di universitas yang sama, telah menciptakan tanaman singkong bebas sianogen. Sianogen merupakan zat kimia yang menginduksi produksi sianida.
Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Planta terbaru ini menyebutkan bahwa singkong tergolong tanaman keras, mampu bertahan hingga dua tahun dan hanya perlu sedikit air untuk hidup. Makanan ini menjadi sumber utama karbohidrat bagi banyak petani di wilayah Afrika.
Tapi sayangnya tanaman tersebut mengandung kandungan racun sianogen yang disebut linamarin. Biasanya penduduk setempat memproses singkong menjadi makanan dengan cara mengeringkannya, merendam dalam air, mencuci atau melalui proses pemutihan agar linamarin ini berkurang. Namun Sayre berpendapat bahwa jalan pintas yang kerap dilakukan penduduk karena kelaparan membuat racun masih tetap ada di dalam singkong.
�Kalau kita dapat mengeliminasi sianogen dalam singkong maka tanaman ini tidak perlu lagi melalui proses penghilangan racun sebelum dimakan,� ujarnya. �Di Afrika, kasus keracunan singkong sudah sangat umum. Yang bahaya, penderitanya adalah orang yang memang sudah kekurangan gizi.�
Berdasar penelitian Sayre, orang yang kekurangan protein justru berpotensi besar keracunan sianida. Ini disebabkan oleh minimnya asam amino dalam tubuh yang mampu menetralisasi racun.
Memblokir Linamarin
Sayre dan Siritunga telah mengembangkan tanaman singkong yang mampu mengekspresi gen-gen yang bisa memblokir linamarin. Gen-gen ini bisa menganalisis kandungan linamarin pada akar dan daun tanaman. Setelah itu gen-gen ini akan mengurangi kandungan linamarin di daun sebanyak 60-90 persen dan di akar hingga 99 persen bila dibandingkan dengan tanaman singkong biasa.
Menurut Sayre, linamarin lebih banyak dihasilkan di bagian daun daripada akar singkong. Para ahli biologi tanaman yakin bahwa linamarin pertama kali ditransportasikan ke bagian daun sebelum ke akarnya. Berarti jika kita bisa mengurangi kandungan linamarin di daun, otomatis akan mengurangi pula kandungan linamarin di akar singkong.
�Ketika linamarin bisa berkurang hingga 40 persen di bagian daun, maka akar singkong mengandung kurang dari satu persen sianogen,� Sayre menarik kesimpulan. Sesungguhnya linamarin ini berfungsi untuk melindungi tanaman dari serangan serangga atau hewan lain. Sedangkan racun sianida terbentuk ketika singkong diproses untuk menjadi makanan. Racun ini akan menguap dan hilang ke udara bila singkong memang melalui proses sempurna sebelum dikonsumsi. Sebenarnya sudah ada metode tepat yang direkomendasikan Badan Pangan Dunia (FAO) untuk mengetahui kandungan maksimum sianida ini.
Faktanya, di sejumlah negara Afrika masih banyak kaum perempuan dan anak-anak yang menjadi korban keracunan sianida. Sayre menyebutkan bahwa kaum perempuanlah yang biasanya memproses singkong agar menjadi makanan bebas racun. Ironisnya justru mereka yang paling berisiko teracuni gas sianida akibat menghirupnya secara langsung.
Sebenarnya kalau saja kandungan linamarin dalam akar singkong tidak lebih dari 10 persen maka singkong akan aman dikonsumsi manusia. Linamarin akan diubah menjadi sianida saat dimakan. Walau dalam dosis kecil, sianida yang dimakan terus-menerus akan memicu gangguan kesehatan.
�Tanaman singkong bebas sianogen ini cukup aman diproduksi sebagai produk makanan,� klaim Sayre. Namun ia juga menyadari bahwa sesungguhnya linamarin juga sangat berperan dalam menghantar nitrogen dari daun singkong ke akar pada tanaman berusia muda.
Setiap tanaman memproduksi linamarin dalam level yang berbeda-beda. Maka akan diperlukan lebih banyak studi lanjutan untuk memproduksi linamarin sintetis dalam singkong.
